<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sarasehan &#187; padi</title>
	<atom:link href="http://xitalho.jogloabang.com/tag/padi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://xitalho.jogloabang.com</link>
	<description>Saling Asah Asih Asuh</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Jun 2010 16:49:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dewi Sri</title>
		<link>http://xitalho.jogloabang.com/2009/05/30/dewi-sri/</link>
		<comments>http://xitalho.jogloabang.com/2009/05/30/dewi-sri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 05:04:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xitalho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Joglo Abang]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[padi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://xitalho.jogloabang.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[( Nenek Moyangku Petani II )
Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa petani kita dulu kala adalah tulang punggung negeri ini seperti di postingan saya sebelum ini? Jawa dwipa pernah memperoleh berkah yang sangat melimpah dari Sangyang dewi Sri, dewinya padi &#8211; simbol kemakmuran dan ketentraman, seperti diceritakan dalam catatan sejarah berikut ini.
 
Kemurahan Dewi Sri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">( Nenek Moyangku Petani II )</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;">Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa petani kita dulu kala adalah tulang punggung negeri ini seperti di <a title="Nenek Moyangku Petani I" href="http://xitalho.jogloabang.com/2009/05/28/nenek-moyangku-petani/" target="_blank">postingan saya</a><a href="http://xitalho.jogloabang.com/2009/05/28/nenek-moyangku-petani/"> </a>sebelum ini? Jawa dwipa pernah memperoleh berkah yang sangat melimpah dari Sangyang dewi Sri, dewinya padi &#8211; simbol kemakmuran dan ketentraman, seperti diceritakan dalam catatan sejarah berikut ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Kemurahan Dewi Sri ini pula yang kemudian menjadikan Jawa menjadi pulau padi ternama. Menurut catatan Jonathan Rigg, ahli geografi dari University of Durham, Jawa pada abad 10 telah menjadi eksportir beras dalam jumlah besar ke berbagai negara. Lalu, pada abad 15 dilaporkan bahwa Ma Huan, sekretaris Laksamana Zheng Ho dari Dinasti Ming, menulis dengan takjub bahwa di Jawa &#8220;orang masak (panen) beras dua kali setahun&#8221;. Ini anugerah pertanian yang bukan main mengingat di negerinya padi baru bisa dituai paling banyak sekali dalam setahun. Pada masa ini, Jawa, lewat Pelabuhan Jepara, dikabarkan mampu mengapalkan ratusan ton beras ke negara-negara Asia Tenggara. Sebelum, akhirnya ekspor ini terganggu oleh bangsa Portugis dan Belanda yang datang ke Indonesia</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;"><em>. (sumber : Kompas.com)</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;">Kini….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;">Ketika ibu Pertiwi yang sedang bersusah hati, dengan segala persoalan ketertinggalan atau kemunduran, maka ibu Dewi Sri pun sudah mulai jarang tersenyum. Beliau mulai asing dengan lingkungan dan sosio budaya masyarakat yang dulu pernah dikasihinya dengan limpahan bulir-bulir beras yang menghidupi seluruh negeri, bahkan jaman itu sampai bisa ekspor dalam skala yang massive. Atau sang Dewi Sri tengah mengalihkan perhatian dan kasihnya kepada negara-negara tetangga kita? Nyatanya mereka sekarang mampu menjadi ekportir beras yang utama, mampu menempatkan beras makanan pokok mereka menjadi komoditas yang bernilai ekonomis dan penyumbang devisa bagi bangsa dan negaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;">Sengaja kami mengangkat tema-tema keterpurukkan sektor pertanian, semoga bisa menjadi sumbangsih untuk sekedar mengingatkan kembali, agar kita mau menengok kembali keadaan pertanian kita. Semoga bangsa ini mau menengok kembali identitas dirinya yang mulai menghilang. Sedangkan itu menyangkut wilayah kebutuhan primer – tentang pengadaan, kesiapan dan ketersediaan bahan pangan. Miris rasanya ketika masuk ke toko-toko atau super market dan membaca label bungkus-bungkus bahan pokok makanan itu ternyata diimport dari tetangga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;">Haruskah kita kehilangan jati diri itu? Sementara di sektor agro industri buah-buahan &#8211; bahkan petani kita <strong>sudah menjadi </strong>penonton. Tragisnya semua lapisan masyarakat kita bahkan dengan bangganya menyantap lezatnya buah-buahan import yang ranum-ranum menarik hati itu. Buah-buahan lokal tempatnya hanya di pasar-pasar tradisional yang kumuh… dan tak mampu duduk bersanding dengan buah-buahan import yang montok-montok dan murah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;">Uluran dan campur tangan Pemerintah dan lembaga-lembaga terkait sangat diharapkan. Jangan biarkan petani kita tertatih melawan keperkasaan produk pertanian import yang membanjir. Tentunya yang dibutuhkan adalah uluran tangan dengan kesungguhan dan tekad untuk menjadikan petani kita sebagai tuan rumah di negeri sendiri, atau bahkan jika perlu penjadi <span style="text-decoration: underline;">Pemain Utama</span> di kancah Perekonomian Global. Seluruh aspek harus di tangani dan kembangkan secara Total Profesional, jangan ada lagi sikap setengah-setengah! Lha wong kita ini sebetulnya mempunyai tenaga ahli yang banyak, pegawai penyuluh pertanian yang banyak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; font-style: normal;">Seandainya saja para pemimpin negeri ini mau turun ke bawah, dan mengagendakan masalah ini ke level <strong>most important</strong>, semoga saja kita bisa mengembalikan masa-masa kejayaan pertanian bangsa ini.. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://xitalho.jogloabang.com/2009/05/30/dewi-sri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
