Sarasehan
Saling Asah Asih Asuh
Posted by xitalho on May 28th, 2009

Negeri agraris ini, dulu kala lantang sekali… suara kecipak cangkul dan lenguhan kerbau menarik bajak bahkan membumbung mengabarkan betapa Kerta Raharjanya negeri hijau ini. Bahkan Koes Plus dengan riangnya menyanyikan pujian untuk negeri “Kolam Susu”.

Pernah ku dengar perkataan bahwa petani adalah tulang punggung negara, dari ketiak petani berhamburan bulir-bulir beras, dan “lekokan” bekas kaki petani berenang ikan-ikan.. dari keringat petani sayuran menghijau. Suara kodok di hamparan sawah dan gemericik air meningkahi desauan daun bambu adalah simphoni yang hidup. Petani kita memang pernah menjadi idola dan tulang punggung negara.


Semasa kecil kuingat betapa petani bekerja dari subuh sampai senja temaram, sepanjang tahun bergumul dengan alam dan puncaknya ketika panen tiba. Lalu mereka akan kembali menanam padi yang kedua atau tanaman lainnya sesuai musimnya, sementara di pekarangan-pekarangan rumah mereka ada kolam ikan, kandang ternak, unggas, semuanya hidup dan berjalan sebegitu wajar dan alami. Sedangkan di sawah-sawah masih banyak kita temui ikan, belut yang segar tanpa kontaminasi insektisida dan pestisida. Padi di panen dengan memakai ani-ani ( anak desapun sekarang gak ada yang tahu, seperti apa “ani-ani” itu? ). Di “tegalan” ( area persawahan yang agak tinggi dan kering ), petani menanam sayuran kacang panjang, jagung, cabai, dll.

Pekerjaan bertani adalah warisan turun temurun yang telah melewati berbagai macam jaman. Betapa areal yang subur pada jaman dahulu selalu menjadi rebutan antar individu, antar daerah, bahkan antar kerajaan. Karena hanya dengan memilikki lahan subur yang luas dan banyak air mereka/penduduknya bisa bercocok tanam untuk menghasilkan bahan pangan. Ketercukupan bahan pangan adalah “Soko Guruning Nagari” sumber utama kekuatan suatu bangsa. Semaju dan secanggih apapun suatu negara, namun tidak memilikki sumber-sumber penghasil bahan pokok pangan, maka sebenarnya negara tersebut merupakan negara paling bengek dan rentan.

Sayangnya, pekerjaan mulia ini sedang terancam oleh berbagai faktor, misalnya, harga padi rendah, rusaknya lingkungan mengakibatkan pasokan air untuk budidaya pertanian menjadi terganggu dan pembangunan perkebunan atau perumahan kompleks komersial yang sering membawa polusi ke daerah-daerah di dekatnya. Selain itu, generasi baru cenderung meninggalkan pekerjaan warisan nenek moyangnya ini – untuk bekerja di pabrik-pabrik di kota atau pekerjaan lainnya yang menawarkan pendapatan mereka lebih baik. Sedangkan peran pemerintah kita terhadap dunia pertanian, antara ada dan tiada… butuh-butuh tak butuh… Peran pemerintah rasanya ( mungkin cuma perasaanku saja ) tidak pernah menyentuh sampai urat – nadi – tulang – kulit system pertanian rakyatnya. Orang-orang lebih seneng bicara teori, dari seminar ke seminar, dari simposium ke simposium, dari konferensi ke konferensi yang hasilnya tidak pernah bisa langsung mengenai obyeknya … PETANI dan LAHAN PERTANIAN..!! Hla koq bisa mas? Ha..ha.. saya hanya orang awam dan ndak tahu apa yang tengah terjadi … Apakah kita tengah defisit Sarjana Pertanian? Pakar Pertanian? Institusi Pendidikan Pertanian? Penyuluh Pertanian? Rasanya nggak khan? Tapi kenyatannya pertanian kita gak maju-maju amat dibanding negara-negara tetangga kita… Beras mahal karena import.. kedele mahal karena import, gula mahal karena import juga.., (doh) apalagi yang bakalan naik lagi.

Petani kita masih berpola pikir tradisional. Jangan harapkan mereka mampu bersaing dengan petani Thailand, Vietnam atau Taiwan yang mampu menjadi tulang punggung bagi negaranya masing-masing, bahu membahu dengan bidang sains dan teknologi.  Sekarang adalah waktunya untuk membantu (mantan) tulang punggung negara ini..  untuk melaksanakan tugas mereka mengembalikan status negeri agraris seperti yang pernah kita sandang, agar mereka dapat bertahan terhadap berbagai tantangan. Bantulah pentani kita memikirkan segala tetek-bengek permasalahan tentang modal tanam, modal kerja, pengadaan bibit/benih unggul, teknologi pola tanam .. pengertian antara demand-supply yang berlangsung di pasar, teknologi pasca panen, ilmu pemasaran. Bantu juga menjaga gempuran produk luar,  jangan biarkan bertanding selagi kondisinya belum siap bertarung.

Nenek Moyangku Petani……

19 Responses to “Nenek Moyangku Petani”

  1. sumpah

    nenek moyangku duduk petani
    tapi asli pejuang

    btw,tulisanmu apik kang

    [Reply]

    xitalho Reply:

    ngono yo apik mas… trims:D

    [Reply]

  2. petani itu adalah pengusaha…
    sayang masih saja diperlakukan tidak adil oleh kebijakan yang masih menganggap petani sebagai buruh…

    [Reply]

    xitalho Reply:

    Ikulah yang saya bilang satengah hati…..

    [Reply]

  3. byuh, tak kiro facebook tenanan iki mau, tibaknya template…
    mari kita dukung usaha petani

    [Reply]

  4. mari kita dukung facebook…
    hloooo… salah mlebu aku…
    yoooo…. hidup petani !!!

    [Reply]

    Pingin Ngeblog Reply:

    Halaaah… (blush) Pingin Ngeblog´s last blog ..Self Confession My ComLuv Profile

    [Reply]

  5. hooh tak kiro fesbuk iki

    [Reply]

  6. nenek moyangku wes mati…
    hihihi

    [Reply]

    Pingin Ngeblog Reply:

    Bien.. wong mati ora obah.. yen obah medeni bocah.. (lmao)
    Pingin Ngeblog´s last blog ..Self Confession My ComLuv Profile

    [Reply]

  7. fesbuk milik petani dan petani dipersenjatai fesbuk

    hidup petani, yo iyo nek mati kan yo ra hidup

    mwekwmekwmekwmekwmekwmek (sirik MODE ON)

    [Reply]

  8. bagaimanapun juga agraris adalah seperti ideologi dan sawah adalah pegangan hidup pada saat itu, entah mau dijual laku berapa, murah atau mahal petani tetap menanam padi untuk pengabdiannya pada profesi yang ditekuninya dengan setia sepenuh hati, dahsat…

    [Reply]

  9. pupuk mahal, padi murah.. gimana petani bisa maju..

    betewe..
    iki pesbuk swasta yo.. wkwkwkwk..

    [Reply]

  10. Bagaimana mau baik hasilnya, pupuk saja belinya susahhhhhh banget, pemerintah harus mengelola distribusi pupuk dengan baik, penyuluhan pertanian secara rutin dan berkesinambunagan, menyediaakan bibit unggul , menjaga harga gabah tetap tinggi , sehingga profesi sebagai petani bisa menjadi tumpuan hidup saudara – saudara kita yang di desa.

    [Reply]

  11. bukannya nenek moyang itu dari bangsa mongolia **jarene**

    [Reply]

  12. om silathol macam mana caranya biar maju kayak thailand….kalo mereka diberi full support dari Government, kalo indonesia…………..ntah lah……….

    [Reply]

    Pingin Ngeblog Reply:

    ndak usah dipikir berat bu… bukan bidang sampeyan khan? :D

    [Reply]

  13. Great post! I’ll subscribe right now wth my feedreader software!

    [Reply]

  14. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang

    [Reply]

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Spam Protection by WP-SpamFree

Recent Comments

  • kips: Cukup dengan mendengar kabarnya saja hehe…
  • PRofijo: Kapan kowe nang endonesia jauh…?
  • annosmile: kalau jodoh.. segeralah dilamar.. ama pake emo ini (cozy) .-= annosmile´s last blog ..Pesona Kebun Teh...
  • annosmile: ketemu xixitalho kaget setengah mati.. kok ada makhluk hidup yang datang dari batam… ternyata pulau...
  • PRofijo: mbatam – pekanbaru kok ketemun’e nang solo…

TagCloud

bangsa Indonesia (3)
Budaya (5)
Forum Komunikasi (5)
Joglo Abang (6)
Keluarga (3)
Mengembalikan Jati Diri Bangsa (1)
Mental (3)
Moralitas (2)
Pertanian (1)
Petani (2)
Solo (1)
Yogyakarta (2)

WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.